Loading...
Kelas 11 Kurikulum MerdekaKurikulum MerdekaPAI Kelas 11 Kurikulum MerdekaSMA Kurikulum Merdeka

Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 5 Kurikulum Merdeka

PAI Kelas 11 Bab 5 Kurikulum Merdeka

PAI Kelas 11 Bab 5 Kurikulum Merdeka

Halo adik-adik berjumpa lagi di Portal Edukasi.

Kesempatan sebelumnya Admin telah membagikan Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 4 : Menerbarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig.

Pada kesempatan kali ini, Admin akan membagikan materi baru nih untuk Kurikulum Merdeka terbaru.

Pada materi kali ini akan membahas tentang Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 5 : Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia.

Yuk mari disimak!

KURIKULUM MERDEKA

Rangkuman PAI Kelas 11 Bab 5

Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

Ulama Indonesia untuk Dunia

Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, telah melahirkan banyak ulama yang memberikan sumbangsih besar terhadap Indonesia.

Tidak hanya untuk Indonesia saja, bahkan sumbangsihnya ada yang sampai mendunia.

Wah, siapa saja ya mereka?

Mereka itu antaralain:

  • Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani
  • Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari
  • Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani
  • Nuruddin bin Ali ar-Raniri
  • Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili
  • Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani
  • Hamzah al-Fansuri

Nah ini kita akan bahas satu per satu ya!

 

Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al- Jawi al-Bantani, namun lebih terkenal dengan nama Syekh atau Imam Nawawi Banten.

Ayahnya adalah Umar bin Arabi yang merupakan seorang ulama di Banten.

Sebutan al-Jawi, menunjukkan bahwa beliau berasal dari Pulau Jawa, yakni Banten.

Namun, di seantero dunia, beliau diberi gelar Sayyidul Hijaz (Maha Guru Jazirah Arab, Saudi Arabia sekarang).

Beliau dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada ahun 1815 Masehi, atau 1230 Hijriah, dan beliau wafat pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah, atau 1897 Masehi.

Gelar Sayyidul Hijaz bukan sembarang gelar, dan itu diperoleh di wilayah Timur Tengah, tepatnya di seputar Jazirah Arab (Makkah-Madinah saat itu), dan Masjidil Haram, khususnya Ka’bah yang menjadi jantung atau pusatnya ajaran Islam.

Sejak tahun 1870 M, kesibukan Imam Nawawi semakin bertambah, karena harus banyak menulis kitab.

Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami.

Saat menyusun karyanya, beliau selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, termasuk sebelum naskahnya naik cetak.

Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia, karena karyakaryanya mudah dipahami dan mendalam isinya.

Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Imam Nawawi sebagai kurikulum belajarnya.

Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya.

Berikut ini, 10 nama kitab karya beliau dari total karya beliau yang berjumlah 115 yang mengupas tentang Fiqh, Tasawuf, Tafsir, dan Hadis, yaitu:

  • Sullam al-Munājah syarah Safīnah al-Shalāh
  • Bahjah al-Wasāil syarah al-Risālah al-Jāmi’ah bayn al-Usūl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
  • al-Tausyīh/Quwt al-Habīb al-Gharīb syarah Fath al-Qarīb al-Mujīb
  • Marāqi al-‘Ubūdiyyah syarah Matan Bidāyah al-Hidāyah
  • Nashāih al-‘Ibād syarah al-Manbahātu ‘ala al-Isti’dād li yaum al-Mi’ād
  • Qāmi’ al-Thugyān syarah Mandhūmah Syu’bu al-Imān
  • al-Tafsir al-Munīr li al-Mu’ālim al-Tanzīl al-Mufassir ‘an wujūĥ mahāsin
  • al-Ta΄wil musammā Marāh Labīd li Kasyaf Ma’nā Qur΄an Majīd
  • Nur al-Dhalām ‘ala Mandhūmah al-Musammāh bi ‘Aqīdah al-‘Awwām
  • Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
  • ‘Uqūd al-Lujain fi Bayān Huqūq al-Zaujain.

 

Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari

Nama lengkapnya Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari.

Beliau dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, pada tanggal 3 Juli 1626, sedangkan tempat wafatnya di Cape Town, Afrika Selatan, pada tanggal 23 Mei 1699 pada usia 72 tahun.

Di kalangan rakyat Sulawesi Selatan,beliau mendapatkan gelar sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”).

Syekh Yusuf lahir dari ayah-ibu bernama Abdullah dan Aminah.

Nama saat dilahirkan adalah Muhammad Yusuf yang konon nama tersebut diberikan oleh Sultan Alauddin.

Saat usianya 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh.

Di Banten, sahabatnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa, yang kelak mengangkatnya sebagai Mufti Kesultanan Banten.

Selanjutnya, Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin ar-Raniri dan mendalami tarekat Qadiriyah.

Tahun 1644 M, Syekh Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Makkah untuk beberapa lama, lalu belajar kepada ulama terkemuka di Makkah dan Madinah, termasuk juga memperdalam ilmu ke Yaman, berguru pula kepada Syekh Abdullah Muhammad bin Abdul Baqi, dan ke Damaskus (Suriah) untuk berguru pada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati Al-Quraisyi.

Syekh Yusuf dikenal juga sebagai mursyid (pembimbing) tarekat Khalwatiyah.

Beliau juga mengajarkan tarekat lainnya, antara lain: Qadiriyah, Naqshabandiyah, Ba‘lawiyah, dan Syathariyah.

Ajaran pokoknya adalah usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. yang mengacu pada peningkatan kualitas akhlak yang mulia serta penekanan amal shalih dan dzikir, baik secara perorangan maupun kelompok.

Penjelasan lebih rinci dapat ditemukan pada risalahnya yang berjudul An-Nafhatu As Sailaniyah.

Khusus berkaitan dengan tata cara melakukan dzikir, salah satu amalan terpenting dalam tarekat, diuraikan dalam risalahnya berjudul Kaifiyāt al-Dzikir (Cara-cara Berdzikir).

Menurutnya, ada 20 macam adab berdzikir, lima di antaranya mengenai hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum berdzikir, yaitu:

  • Pertama, bertaubat dari segala dosa
  • Kedua, berwudhu jika hadas (besar dan kecil)
  • Ketiga, mandi jika junub
  • Keempat, berdiam diri tidak bicara
  • Kelima, memohon (berdoa) hanya kepada Allah Swt

Selain risalah yang telah disebutkan, berikut ini adalah judul buku lainnya:

  • Zubdād al-Asrār fī Tahqīq Ba’d Masyārib al-Akhyār.
  • Tāj al-Asrar fī Tahqīq Masyrab Al ‘Ārifīn min Ahl al-Istibshār.
  • Mathālib as-Sālikīn, Fath Kaifiyyah az-Dzikr.
  • Safīnat an-Najah,

Banyak contoh teladan yang bisa diambil dari beliau ya.

Saat Kesultanan Gowa kalah perang dari Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam.

Pada September 1684 M, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka, beliau tetap berdakwah sampai memiliki ratusan murid!

Salah satu ulama besar India, yang merupakan santrinya adalah Syekh Ibrahim bin Mi’an.

Beliau akhirnya masih diasingkan lagi ke Afrika Selatan, dan tentu saja beliau masih tetap semangat berdakwah!

Saat beliau wafat tanggal 23 Mei 1699 M, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan.

Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

 

Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani

Syekh Abdus Samad dilahirkan di Palembang (kini masuk wilayah Sumatera Selatan) pada tahun 1116 H/1704 M, dan wafat pada tahun 1203 H/1789 M dalam usia 85 tahun.

Nama ayahnya adalah Syeikh Abdul Jalil, yang merupakan ulama yang berasal dari Yaman, yang dilantik menjadi Mufti Negeri Kedah (kini Malaysia) pada awal abad ke-18.

Sementara ibunya, bernama Radin Ranti, adalah wanita asli Palembang.

Sementara, nama panjangnya terdapat 3 versi, yaitu:

  • Abdus Samad al-Jawi al-Falembani
  • Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Falembani
  • Sayyid Abdus Samad bin Abdurrahman al-Jawi

Pendidikannya dilanjutkan di salah satu pondok di Negeri Pattani (kini masuk wilayah Thailand Selatan).

Di Pattani, beliau mendapatkan ilmu-ilmu dasar, seperti hafalan Matan Ilmu-Ilmu Arabiyah, dilanjutkan di bidang Syariat Islam dimulai dengan matan-matan ilmu fiqh yang ebrmadzhab Imam Syafi’i.

Selanjutnya, di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/ushuluddin menurut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja/Sunni) yang bersumber dari Syekh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi, karena kecerdasannya saat di Pattani, beliau sudah diperbolehkan sebagai pengajar, meskipun masih sebatas menjadi Mentor atau Tutor.

Syekh Muhammad bin Samman menjadi gurunya, Sykh Abdus Samad mendalami juga kitab-kitab tasawuf kepada Syeikh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin al-Sumaterani, kedua-duanya dari Aceh.

Karyanya yang terkenal dan sampai saat ini masih dipergunakan adalah Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin.

Kedua kitab tersebut, merupakan penjelasan dari 2 kitab karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, yakni Bidāyat al-Hidāyah dan Lubāb Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn.

Adapun kitab dan karyanya yang lain, sebagai berikut:

  • Zahratul Murīd fi Bayāni Kalimah al-Tauhīd, 1178 H/1764 M.
  • Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/1765 M.
  • Hidāyatus Sālikīn fī Sulūki Maslakil Muttaqīn, 1192 H/1778 M.
  • Siyārus Sālikīn ilā ‘Ibādati Rabbil ‘Alamīn, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M.
  • Al-‘Urwatul Wutsqā wa Silsilatu Waliyil Atqā.
  • Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani.
  • Nashīhatul Muslimīna wa Tazkiratul Mu’minīna fi Fadhāilil Jihādi wa Karāmatil Mujtahidīna fī Sabīlillah.
  • Ar-Risālatu fī Kaifiyatir Rītib Lailatil Jum’ah
  • Mulhiqun fī Bayāni Fawaidin Nafi’ah fī Jihādi fī Sabīlillah
  • Zātul Muttaqin fī Tauhidi Rabbil ‘Alamīn
  • ‘Ilmut Tasawuf
  • Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalātu was Salām
  • Kitab Mi’raj
  • Anisul Muttaqin
  • Puisi Kemenangan Kedah

 

Nuruddin bin Ali ar-Raniri

Nama lengkapnya beliau adalah Syekh Nuruddin Muhammad bin ‘Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi.

Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, wilayah Gujarat India, dan wafat pada 21 September 1658 M.

Pengetahuan Syekh Nuruddin tak terbatas dalam satu cabang ilmu saja, namun sangat luas yang meliputi bidang sejarah, politik, sastra, filsafat, fikih, dan mistisisme (tasawuf).

Beliau adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17.

Dia berperan membawa tradisi besar Islam sembari mengurangi masuknya tradisi lokal ke dalam tradisi yang dibawanya.

Tanpa mengabaikan peran ulama lain yang lebih dulu menyebarkan Islam di wilayah ini, beliau berupaya menghubungkan satu mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam Nusantara.

Pada tahun 1637 M, ia kembali ke Aceh dan tinggal selama tujuh tahun.

Berkat keluasan pengetahuannya, Sultan Iskandar Tani (1636 M-1641 M) mempercayainya untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Syamsuddin.

Nuruddin menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti Besar, ditambah jabatan sebagai Syekh di Masjid Bait al-Rahmā.

Secara keseluruhan, Nuruddin Ar-Raniri menulis sekitar 30 naskah buku, di antaranya adalah:

  • Al-Shirāth al-Mustaqīm
  • Durrat al-Farāid bi syarh al-‘Aqāid an-Nasafiyah
  • Hidāyat al-Hābib fi al Targhib wa’l-Tarhib
  • Bustanus al-Shalathin fī Dzikr al-Awwālin wa al-Ākhirīn
  • Nubdzah fi Da’wah al-Dzill ma’a Shāhibihi
  • Lathā’if al-Asrār
  • Asrāl an-Insān fī Ma’rifāt al-Rūh wa al-Rahmān
  • Tibyān fī Ma’rifat al-Adyān
  • Akhbār al-Ākhirah fi Ahwāl al-Qiyāmah
  • Hill al-Dzhill
  • Ma’u’l Hayat li Ahl al-Mamāt
  • Jawāhir al-‘Ulūm fī Kasyfi’ al-Ma’lūm
  • Aina’l-‘Alam Qabl an-Yukhlaq
  • Syifā’ al-Qulūb
  • Hujjat al-Shiddīq li daf’i al-Zindīq
  • Al-Fat-hu’l-Mubīn ‘a’l-Mulhiddīn
  • Al-Lama’an fi Takfir Man Qala bi Khalg al-Qur’an
  • Shawarim al-Shiddīq li Qath’i al-Zindīq
  • Rahīq al-Muhammadiyyah fī Tharīq al-Shufiyyah
  • Ba’du Khalq al-samawāt wa al-Ardh
  • Kaifiyat al-Shalāt
  • Hidāyat al-Īmān bi Fadhli al-Manān
  • ‘Aqā’id al-Shufiyyat al-MuwahhiddĪn
  • ‘Alaqat Allah bi al-‘Alam
  • ‘Al-Fat-hu’l-Wadūd fī Bayān Wahdat al-Wujūd
  • ‘Ain al-Jawād fī Bayān Wahdāt al-Wujūd
  • Awdhah al-Sabīl wa al-Dalil laisal li Abathil al-Mulhiddīn Ta’wīl
  • Awdhah al-Sabīl laisan li Abathil al-Mulhiddīn Ta’wīl.
  • Syadar al-Mazīd.

 

Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili

Nama populernya beliau adalah Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (Singkil, Aceh).

Adapun nama lengkapnya adalah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali al-Jawi Tsumal Fansuri as-Singkili.

Beliau lahir tahun 1024 H/1615 M, sementara wafatnya di Kuala Aceh, Aceh Tahun 1105 H/1693 M.

Diperkirakan Syekh Abdul Rauf kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M, dan mengajarkan serta mengembangkan Tarekat Syathariah yang diperolehnya.

Banyak santri dan murid yang berguru kepadanya, beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatra Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

Menurut Azyumardi Azra (Akademisi UIN Jakarta) menyatakan bahwa banyak karya-karya yang dihasilkan oleh Syekh Abdurrauf Singkil, antaralain:

  • Mir’at al-Thullāb fī Tasyil Mawā’iz al-Badî’rifat al-Ahkām al-Syar’iyyah li Mālik al-Wahhāb
  • Tarjuman al-Mustafīd
  • Terjemahan Hadits Arba’in karya Imam al-Nawawi
  • Mawā’iz al-Badī’
  • Tanbīh al-Masyi
  • Kifāyat al-Muhtajin ilā Masyrah al-Muwahhidīn al-Qāilīn bi Wahdatil Wujūd
  • Daqāiq al-Hurf

 

Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani

Di kalangan ulama atau masyarakat awam, orang sering menyebutnya dengan nama Mbah Sholeh Darat.

Nama lengkapnya adalah Al-’Alim Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi asy-Syafi’i.

Mbah Sholeh Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M.

Sementara, informasi yang lain menyebutkan, beliau lahir di Dukuh Kedung Cumpleng, Desa Ngroto, Kecamatan Mayong, Jepara.

Beliau wafat di Semarang pada 28 Ramadan 1321 H/18 Desember 1903 M.

Hasil didikan Mbah Sholeh Darat, dapat ditelusuri dari nama-nama berikut ini, yang merupakan tokoh-tokoh besar Indonesia, antara lain:

  • Hadratu Syekh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU)
  • KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
  • KH Amir Idris (pekalongan)
  • KH Dahlan Tremas
  • KH Dimyathi Tremas
  • KH Dalhar Watucongol (Magelang)
  • KH Bisri Syansuri (Jombang)
  • KH Kholil (Lasem Rembang)
  • KH Sya’ban (semarang)
  • KH Abdus Syakur Senorita (Tuban)
  • KH Yasir Jekulo (Kudus)
  • KH Thoyib (Mranggen Demak)
  • R.A. Kartini

Banyak teladan yang dapat dicontoh dari beliau, yaitu:

  • Pengembaraan ilmunya melalui guru atau ulama yang sudah masyhur, berguru kepada ulama yang bukan sekedar dalam ilmunya, tetapi juga memiliki sangat baik amal ibadah dan akhlak yang dimiliki guru-gurunya.
  • Tidak puas hanya menimba ilmu ulama dari Nusantara, tetapi sampai ke mancanegara, khususnya negara-negara di kawasan Timur Tengah, karena pusat Islam pada waktu adalah di wilayah-wilayah tersebut.
  • Beliau juga mendidik wanita-wanita muslim, terbukti beliau berhasil melambungkan nama RA. Kartini menjadi tokoh emansipasi wanita Indonesia, padahal pada waktu itu Nusantara masih di bawah cengkeraman penjajah Belanda yang umumnya menjadikan wanita sebagai warga “‘kelas dua”.

Syekh Kyai Sholeh Darat termasuk ulama yang produktif, banyak karya lahir darinya, antaralain:

  • Kitab Munjiyat
  • Syarh Kitab al-Hikam
  • Latha’if at-Thaharah
  • Kitab ash-Shalah
  • Tarjamah Sabil al-`Abid `ala Jauharah at-Tauhid
  • Mursyid al-Wajiz
  • Minhaj al-Atqiya’
  • Kitab Hadis al-Mi’raj
  • Kitab Asrar al-Shalah
  • Faid ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir al-Kalam al-malik al-Dayyan
  • Kitab Manasik al-Haj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin
  • Kitab Majmu’ah al-Syari’ah al-Kafiyah li al-’Awam

 

Hamzah al-Fansuri

Nama populernya Syekh Hamzah Fansuri, atau Hamzah al-Fansuri.

Nama al-Fansuri sendiri berasal dari Arabisasi kata Pancur, sebuah kota kecil di pantai Barat Sumatra yang kini terletak antara Singkil (Aceh) dan Sibolga (Sumatra Utara).

Sepanjang hayatnya, Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia.

‘’Seorang penyair Melayu, Hamzah Pansur, adalah sosok terkemuka di lingkungan orang-orang Melayu, karena syair dan puisinya yang menakjubkan. Kita dibuat dekat kembali dengan kota kelahiran sang penyair, jika mengangkat naik timbunan debu kebesaran dan kemegahan masa lampau,’’ tulis Valentijn.

Adapun karya-karya Syekh Hamzah Fansuri yang sampai saat ini masih dapat ditelaah, dikaji dan dinikmati adalah:

  • Kelompok Puisi
    • Syair Burung Unggas
    • Syair Dagang
    • Syair Perahu
    • Syair Si Burung pipit
    • Syair Si Burung Pungguk
    • Syair Sidang Fakir
  • Kelompok Prosa
    • Asrār al-‘Ārifīn
    • Sharab al-‘Āsyikīn
    • Kitab al-Muntahi/Zinat al-Muwahidīn

 

Apabila kalian sudah cukup memahami materi ini, coba juga latihan soal materi ini pada link dibawah ini:

 

Latihan Soal PAI Kelas 11 Bab 5 Kurikulum Merdeka

 

Sekian rangkuman yang dapat Admin bagikan kali ini tentang rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 5 Kurikulum Merdeka.

Jangan lupa share ke teman teman kalian apabila kalian merasa artikel ini bermanfaat untuk kalian.

Selalu kunjungi Portal Edukasi untuk rangkuman materi lainnya ya.

Baca Juga: Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 6 Kurikulum Merdeka

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
error: Maaf Dilarang Copas Ya :)
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x