Loading...
Kelas 12Kurikulum MerdekaPAI Kelas 12 Kurikulum MerdekaSMA Kurikulum Merdeka

PAI Kelas 12 Bab 10 Kurikulum Merdeka

PAI kelas 12 Bab 10 Kurikulum Merdeka

PAI Kelas 12 Bab 10 Kurikulum Merdeka

Halo adik-adik berjumpa lagi di Portal Edukasi.

Pada kesempatan sebelumnya Admin telah membagikan tentang Rangkuman Materi PAI Kelas 12 Bab 9: Ijtihad.

Pada materi kali ini akan membahas tentang Rangkuman Materi PAI Kelas 12 Bab 10: Peran Organisasi Islam di Indonesia.

Yuk mari disimak!

KURIKULUM MERDEKA

Rangkuman PAI Kelas 12 Bab 10

Peran Organisasi Islam di Indonesia

 

Peranan Ulama Islam Pada Masa Perang Kemerdekaan

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang peranan ulama Islam, kita tentu saja harus memahami dulu apa itu ulama?

Para ulama adalah orang Islam yang mendalami ilmu agama, sehingga mereka menjadi tempat bertanya umat, dan sekaligus menjadi panutan.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang artinya:

“Ulama itu bagaikan pelita (obor) di muka bumi, sebagai pengganti para Nabi dan sebagai pewaris para Nabi”, (H.R. Ibnu Adi dari Ali bin Abi halib)

Nah lalu peranan ulama pada masa perang kemerdekaan dibagi menjadi dua yaitu:

  • Membina kader-kader umat Islam, melalui pesantren dan aktif dalam pembinaan masyarakat, seperti:
    • K.H. Ahmad Dahlan
    • K.H. Hasyim Asy’ari
    • K.H. Abdul Halim
    • H. Agus Salim
    • K.H. Abdul Wabab Hasbullah
  • Turut berjuang secara fisik sebagai pemimpin perang, seperti:
    • Fatahillah
    • Sultan Baabullah
    • Pangeran Diponegoro
    • Imam Bonjol
    • Habib Abdurrahman

 

Peranan Organisasi dan Pondok Pesantren Pada Masa Perang Kemerdekaan

Pada awal abad ke-19, gerakan perlawanan terhadap kaum penjajah lebih terorganisasi.

Beberapa organisasi yang melakukan perlawanan antaralain:

  • Serikat Dagang Islam/Serikat Islam
  • Muhammadiyah
  • Nahdlatul Ulama (NU)
  • Persatuan Islam (Persis)
  • Sumatra Tawalib
  • Nahdlatul Wathan
  • Mathla’ul Anwar

Nah kita akan bahas satu per satu ya untuk setiap organisasi tersebut, nah entah kenapa di buku paket tidak ada Sarekat Islam, kemudian juga bagian Nahdlatul Wathan dan Mathla’ul Anwar seperti terpotong.

Jadi Admin tidak akan masukan ya disini, takutnya salah, nampaknya editor bukunya lelah jadi terpotong dan terlewat hehehe.

Muhammadiyah

Muhammadiyah lahir pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah yaitu:

  • Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi
  • Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam
  • Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam
  • Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit
  • Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam

Berikut ini peran Muhammadiyah pada awal kemerdekaan:

  • Ki Bagus Hadikusumo dan Kahar Muzakir terlibat langsung menjadi anggota BPUPKI dalam merumuskan dasar negara Indonesia Merdeka.
  • Utusan golongan Islam (termasuk Abdul Kahar Muzakir) bersama anggota Panitia Sembilan lainnya berhasil merumuskan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945
  • Sikap Demokratis demi Keutuhan NKRI dengan menghapus kalimat syariat Islam demi menjaga kebhinekaan dan Kesatuan Negara Republik Indonesia.
  • Terdapat beberapa tokoh penting yang berasal dari Muhammadiyah seperti Ir. Soekarno, Panglima Jenderal Soedirman, dan Ir. Juanda

Nah kalau peran Muhammadiyah di era sekarang yaitu:

  • Mengadakan dakwah Islam
  • Memajukan pendidikan dan pengajaran
  • Memelihara dan mendirikan tempat ibadah dan wakaf
  • Mendidik dan mengasuh anak-anak serta pemuda agar kelak menjadi orang muslim yang berarti.
  • Berusaha dengan segala kebijaksanaan supaya peraturan-peraturan Islam berlaku dalam masyarakat

 

Nahdlatul Ulama (NU)

Organisasi NU didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926.

Dua tokoh penting dalam upaya pembentukan NU adalah K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah.

Pada masa awal pendirian, NU memberikan peran:

  • memajukan bidang pendidikan dengan mendirikan banyak madrasah dan pesantren.
  • mendirikan Lembaga Ma’arif pada tahun 1938 guna mengkoordinasi kerjasama dalam kegiatan pendidikan
  • mengembangkan perekonomian masyarakat dengan mendirikan koperasi pada tahun 1929 di Surabaya

Lalu peran NU pada masa pemerintahan Jepang:

  • K.H. Hasyim Asy’ari diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua Shumubu (Kepala Kantor Urusan Agama)
  • NU mengambil peran penting dalam organisasi Masyumi bentukan Jepang, di mana Hasyim Asy’ari diangkat sebagai ketua pertama dan Wahab Chasbullah menjabat sebagai Penasehat Dewan Pelaksana.
  • Tokoh-tokoh NU terlibat langsung sebagai anggota BPUPKI dan PPKI untuk merumuskan pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Kemudian peran NU pada masa kemerdekaan yaitu:

  • Mengeluarkan Resolusi Jihad.
  • NU dalam Tubuh Masyumi
  • NU sebagai Partai Politik
  • NU Membentuk Liga Muslimin Indonesia
  • NU dalam Pemilu 1955
  • Menumpas Gerakan PRRI
  • Menerima UUD 1945 sebagai konstitusi

Selanjutnya peran NU pada masa order lama:

  • NU menerima Konsep Demokrasi Terpimpin
  • NU menuntut pembubaran PKI

Peran NU pada masa orde baru:

  • Kebijakan Penyederhanaan Partai
  • NU kembali ke Khitah 1926
  • Asas Pancasila dan NKRI sebagai bentuk inal bagi bangsa Indonesia

 

Persatuan Islam (Persis)

Persatuan Islam (Persis) didirikan tepatnya pada tanggal 12 September tahun 1923 M di Bandung Jawa Barat.

Mengenai sejarahnya mengapa memakai nama Persatuan Islam itu karena dimaksudkan untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha sekuat tenaga untuk tercapainya cita-cita yang sesuai dengan yang diinginkan, dan cita-cita organisasi yaitu persatuan rasa Islam, persatuan pemikiran Islam, persatuan suara Islam dan persatuan usaha Islam.

Persis menyebarkan cita-citanya melalui berbagai cara, seperti:

  • mengadakan pertemuan umum
  • khotbah
  • tabligh
  • kelompok studi
  • mendirikan sekolah
  • serta menyebarkan pamflet, majalah, dan kitab

Ahmad Hassan berperan sebagai guru Persis, sedangkan Muhammad Natsir bertindak sebagai juru bicara organisasi di kalangan kaum terpelajar.

Persis juga memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan dengan membentuk Pesantren Persatuan Islam, tujuannya adalah mencetak para pendakwah yang memiliki jiwa dan semangat Islam tinggi untuk mengamalkan, membela, serta mempertahankan agama.

Dalam bidang politik Persis menegaskan bahwa setiap orang Islam wajib aktif dalam politik sebagai bagian dari kewajiban agama untuk menegakkan ideologi Islam.

Pada saat itu ada beberapa tokoh Persis yang tergabung dalam Partai Masyumi, antaralain:

  • M. Natsir
  • Isa Anshari
  • A. Hassan

 

Sumatra Tawalib

Sumatra Thawalib merupakan gerakan pembaruan pemikiran, pendidikan, dan sosial Islam di Sumatera Barat yang perkembangannya dipengaruhi oleh gerakan pembaruan di Timur Tengah.

Gerakan ini menyerap pemikiran pemurnian tauhid Ibnu Abdul Wahab serta gagasan modernis dari tokoh-tokoh seperti Muhammad Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridho.

Di tingkat lokal, Sumatra Thawalib menjadi kelanjutan dari semangat Gerakan Paderi yang dipelopori oleh Haji Sumanik, Haji Piobang, dan Haji Miskin untuk memberantas segala unsur yang menodai akidah dan menyeru umat untuk kembali pada Al-Qur’an dan sunah.

Semangat perjuangan ini kemudian diteruskan melalui pengaruh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabaui, seorang guru besar mazhab Syafi’i di Masjidil Haram Mekah, yang berhasil mendidik murid-muridnya menjadi pelopor pembaruan Islam dan pejuang nasional di tanah air.

Sejarah berdirinya Sumatra Thawalib tidak dapat dipisahkan dari transformasi fungsi surau tradisional Minangkabau menjadi pusat pendidikan Islam.

Salah satu pusat pergerakan utamanya adalah Surau Jembatan Besi di Padang Panjang yang dipimpin oleh Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah) sejak tahun 1912, di mana murid-murid mulai ditanamkan semangat berpikir bebas, membaca, dan berdiskusi.

Kesadaran berorganisasi ini memicu para pelajar untuk mendirikan koperasi sosial-ekonomi bernama Persaiyoan (Perkumpulan Sabun), yang kemudian berganti nama menjadi Thuwailib dan dikembangkan menjadi Sumatra Thuwailib pada tahun 1918.

Langkah serupa juga diikuti oleh para pelajar di Surau Parabek pimpinan Ibrahim Musa melalui organisasi Muzakarat al-Ikhwan.

Melalui musyawarah antara Haji Rasul dan Syekh Ibrahim Musa, organisasi dari kedua surau penting tersebut akhirnya digabungkan menjadi satu wadah yang lebih luas bernama Sumatra Thawalib.

Dalam perannya di bidang pendidikan dan pergerakan, Sumatra Thawalib bertransformasi menjadi sebuah perguruan atau sekolah formal guna membentengi umat dari pengaruh sekolah zending Kristen serta sekolah-sekolah sekuler milik pemerintah Belanda.

Di bawah pengelolaan tokoh seperti Haji Jalaluddin Thaib, sistem halaqah tradisional diubah total menjadi sistem kelas yang mapan dengan penggunaan bangku-meja, kurikulum yang teratur, pemungutan uang sekolah, serta pemberian ijazah bagi para tamatannya.

Sebagai lembaga pendidikan terdepan, Sumatra Thawalib memainkan peran besar dalam memasukkan mata pelajaran umum ke dalam sekolah agama dan membuka akses terhadap kitab-kitab ulama modern.

Perguruan ini berhasil mencetak generasi lulusan yang berpikiran maju dan berjiwa revolusioner, menghidupkan tradisi debat ilmiah yang tidak terikat kaku pada satu mazhab fikih tertentu, serta menanamkan kesadaran berbangsa dan berpolitik yang kuat di tengah masyarakat

Latihan Soal PAI Kelas 12 Bab 10 Kurikulum Merdeka

 

Sekian rangkuman yang dapat Admin bagikan kali ini tentang rangkuman Materi PAI Kelas 12 Bab 10 Kurikulum Merdeka.

Jangan lupa share ke teman teman kalian apabila kalian merasa artikel ini bermanfaat untuk kalian.

Selalu kunjungi Portal Edukasi untuk rangkuman materi lainnya ya.

Baca Juga: Rangkuman Materi Seluruh Pelajaran

 

 

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
error: Maaf Dilarang Copas Ya :)
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x