Daftar Isi
PAI Kelas 11 Bab 7 Kurikulum Merdeka
Halo adik-adik berjumpa lagi di Portal Edukasi.
Kesempatan sebelumnya Admin telah membagikan Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 6 : Menguatkan Kerukunan melalui Toleransi dan Memelihara Kehidupan Manusia.
Pada kesempatan kali ini, Admin akan membagikan materi baru nih untuk Kurikulum Merdeka terbaru.
Pada materi kali ini akan membahas tentang Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 7: Menguatkan Iman dengan Menjaga Kehormatan, Ikhlas, Malu, dan Zuhud
Yuk mari disimak!
KURIKULUM MERDEKA
Rangkuman PAI Kelas 11 Bab 7
Menguatkan Iman dengan Menjaga Kehormatan, Ikhlas, Malu, dan Zuhud
Menjaga Kehormatan
Menjaga kehormatan dalam Bahasa Arab disebut dengan muru’ah.
Muru’ah adalah proses penjagaan tingkah laku seseorang agar sejalan dengan ajaran agama, menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menjauhi segala bentuk keburukan.
Selain muru’ah juga disebut dengan istilah ‘iffah.
Secara bahasa, istilah ‘iffah berarti mencegah dari sesuatu yang tidak bermanfaat atau menjauhi hal yang buruk dan terlarang.
Sikap menjaga kehormatan, terdapat dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 35, yaitu:

yang artinya:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (Q.S. Al-Ahzab/33: 35)
Sikap Muru’ah dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
- kepada diri sendiri
- terhadap sesama makhluk
- terhadap Allah Swt.
Contoh muru’ah dalam ekhidupan sehari-hari yaitu:
- Menjaga perkataan dengan tidak mengejek teman ataupun berkata kasar
- Menggunakan pakaian yang mencerminkan syariat Islam bukan menggunakan pakaian yang menampakkan lekuk tubuh
- Menjauhi pergaulan bebas dan zina
- Menjauhi makan dan minuman yang haram
- Mempergunakan harta di jalan yang baik. Diantaranya bisa dengan bersedekah, menyantuni anak yatim, memberikan beasiswa
- Tidak menyalahgunakan jabatan yang dimiliki
Menurut al-Jurjani dalam Kitab al-Ta’rifat bahwa muru’ah adalah kekuatan hati yang menjadi sumber lahirnya sifat-sifat terpuji baik secara dalil syar’i, akal dan tradisi.
Oleh karena itu, betul yang telah disampaikan Nabi Saw. bahwa kekayaan yang sejati adalah kekayaan hati sebagaimana hadis beliau:

yang artinya:
Dari Abu Hurairah: dari Nabi Saw. bersabda: kekayaan bukanlah dari banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan hati. (H.R. Al-Bukhāri)
Ikhlas
Ikhlas adalah sikap yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Swt. dan tidak mengharap sesuatu apapun, kecuali ridha Allah Swt.
Ikhlas merupakan perintah Allah Swt. sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Az-Zumar ayat 2 berikut ini:

yang artinya:
Sesungghunya Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Kitab (al-Qur’an) dengan benar, maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan (ibadah) kepadanya. (Q.S. Az-Zumar/39: 2)
Ali Abdul Halim (2010) mengatakan bahwa ikhlas dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu:
- Orang awam (umum).
- Orang khawash (khusus).
- Orang khawashul khawas (excellent).
Pada tingkatan orang awam, seseorang beribadah kepada Allah Swt., tujuannya mencari dan menghitung keuntungan dunia dan akhirat.
Pada tingkatan orang khawash, seseorang beribadah hanya untuk mencari keuntungan akhirat bukan lagi berorientasi pada keuntungan dunia.
Pada tingkatan khawashul khawas, seseorang beribadah tidak ada motivasi apa pun, kecuali mengharap ridha dari Allah Swt.
Imam Dzun Nun menjelaskan ada tiga ciri seseorang yang ikhlas dalam beramal:
- Tidak lagi mengharap/menghiraukan pujian dan hinaan orang lain
- Tidak lagi melihat kepada manfaat dan bahaya perbuatan, tetapi pada hakikat perbuatan
- Tidak mengingat pahala dari perbuatan yang dilakukan
Malu
Malu dalam bahasa Arab disebut kata al-haya’.
Malu disebutkan oleh Nabi Saw sebagai cabang dari iman karena dengan sifat malu seseorang dapat tergerak melakukan kebaikan dan menghindari keburukan.
Dalam hadis Nabi Muhammad Saw:

yang artinya:
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar: suatu saat Nabi saw bertemu seorang laki-laki yang mencela saudaranya yang pemalu. Bahkan lelaki tersebut mengatakan rasa malu telah membahayakanmu. Maka Rasulullah bersabda: berhentilah kamu mencela saudaramu, karena malu adalah bagian dari iman. (H.R. Al-Bukhāri).
Menurut Ibnu Hajar penulis kitab Fath al-Bari, malu dibagi menjadi dua, yaitu:
- Malu naluri (gharizah)
- Malu yang dicari/dilatih (muktasab)
Malu naluri (gharizah) yakni sifat malu yang Allah ciptakan pada diri hamba sehingga mengantarkan hamba tersebut melakukan kebaikan dan menghindari keburukan serta memotivasi untuk berbuat yang indah.
Malu yang dicari/dilatih (muktasab), sifat malu ini adakalanya bagian dari iman, seperti rasa malu sebagai hamba di hadapan Allah pada hari kiamat, sehingga menjadikannya mempersiapkan bekal untuk menemui Allah di akhirat nanti.
Nabi Muhammad Saw. memerintahkan untuk malu kepada Allah Swt. dengan sebenarnya, maksudnya adalah menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama Islam, kemudian mengingat kematian dan meninggalkan perhiasan dunia.
Zuhud
Zuhud berarti meninggalkan dari kesenangan dunia untuk lebih mementingkan ibadah.
Orang yang melakukan zuhud disebut dengan zāhid.
Raghib al-Ishfahani menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan usaha untuk menghasilkan sesuatu, seperti yang banyak disalahpahami orang, karena yang seperti itu mengantarkan pada kerusakan alam dan bertentangan dengan takdir dan peraturan Allah.
Menurutnya, orang yang zuhud terhadap dunia adalah orang yang cinta kepada akhirat, sehingga ia menjadikan dunia untuk akhirat.
Yakni menjadikan harta duniawi untuk kebutuhan dan keperluan akhirat.
Sehingga harta yang dimiliki dapat mengantarkan kebahagiaan dan manfaat baginya di akhirat.
Dalam hadis Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari disebutkan:

yang artinya:
“Dari Abu Dzar al-Ghifari dari Nabi saw bersabda: zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau lebih yakin terhadap kekuasaan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap mendapat pahala dari musibah itu daripada dikembalikannya harta itu kepadamu.” (H.R. Al-Tirmidzī).
Anjuran zuhud dalam bertasawuf dilatarbelakangi oleh keyakinan kalangan sufi bahwa manusia cenderung terlalu menikmati hal-hal yang bersifat keduniaan yang mubah. Sehingga akhirnya dapat menyebabkan manusia terjerumus ke sikap berlebihan sebagaimana penjelasan sebelumnya.
Lebih lanjut Rasul juga menyebutkan salah satu bahaya seseorang yang tidak berlaku zuhud, yaitu dapat dijangkiti penyakit wahn, sebagaimana sabda beliau:

yang artinya:
“Dari Tsauban, ia berkata,”Rasulullah saw bersabda: “Hampirhampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “tidak, bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (H.R. Abu Dāwud)
Apabila kalian sudah cukup memahami materi ini, coba juga latihan soal materi ini pada link dibawah ini:
Latihan Soal PAI Kelas 11 Bab 7 Kurikulum Merdeka
Sekian rangkuman yang dapat Admin bagikan kali ini tentang rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 7 Kurikulum Merdeka.
Jangan lupa share ke teman teman kalian apabila kalian merasa artikel ini bermanfaat untuk kalian.
Selalu kunjungi Portal Edukasi untuk rangkuman materi lainnya ya.
Baca Juga: Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 8 Kurikulum Merdeka






