Loading...
Kelas 10Rangkuman MateriSejarah Kelas 10Semester 1Semester 2SMA/K

Materi Sejarah Kelas 10 Bab 3

materi sejarah kelas 10 bab 3

Materi Sejarah Kelas 10 Bab 3

Halo adik-adik berjumpa lagi di Portal Edukasi.

Pada kesempatan sebelumnya, Admin telah membagikan rangkuman Materi Sejarah Kelas 10 Bab 2 : Pedagang, Penguasa dan Pujangga pada Masa Klasik (Hindu dan Buddha).

Pada kesempatan kali ini, Admin akan membagikan materi baru nih.

Yaitu rangkuman Materi Sejarah Kelas 10 Bab 3 : Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara.

Yuk mari disimak!

 

Rangkuman Materi Sejarah Kelas 10 Bab 3

Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara

 

Kedatangan Islam ke Nusantara

Setidaknya ada tiga pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia, yaitu :

  • Pendapat pertama menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Menurut Buya Hamka, Islam berasal dari Arab atau Mesir dengan bukti bahwa Indonesia sejak awal telah menganut mazhab Syafi’i.
  • Pendapat kedua datang dari Hoesein Djajadiningrat, dia mengatakan bahwa Islam datang dari Persia. Buktinya adalah adanya perayaan 10 Muharram atau Asyuro.
  • Pendapat ketiga bahwa Islam berasal dari Gujarat (India) sekitar abad ke-13 Masehi.

 

Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau

Berdasarkan data arkeologis kegiatan perdagangan di Kepulauan Indonesia sudah dimulai sejak abad pertama Masehi.

Jalur-jalur pelayaran dan jaringan perdagangan Kerajaan Sriwijaya dengan negeri-negeri di Asia Tenggara, India, dan Cina terutama berdasarkan berita-berita Cina telah dikaji, antara lain oleh W. Wolters (1967).

Catatan-catatan sejarah Indonesia dan Malaya yang dihimpun dari sumber-sumber Cina oleh W.P Groeneveldt, telah menunjukkan adanya jaringan–jaringan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dengan berbagai negeri terutama dengan Cina.

Dari literatur Arab banyak sumber berita tentang perjalanan mereka ke Asia Tenggara.

Adanya jalur pelayaran tersebut menyebabkan munculnya jaringan perdagangan dan pertumbuhan serta perkembangan kota-kota pusat kesultanan dengan kota-kota bandarnya pada abad ke-13 sampai abad ke-18 misalnya:

  • Samudra Pasai
  • Malaka
  • Banda Aceh
  • Jambi
  • Palembang
  • Siak Indrapura
  • Minangkabau
  • Demak
  • Cirebon
  • Banten
  • Ternate
  • Tidore
  • Goa-Tallo
  • Kutai
  • Banjar
  • kota-kota lainnya

Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Nusantara dengan Arab meningkat menjadi hubungan langsung dan dalam intensitas tinggi.

Peningkatan pelayaran tersebut berkaitan erat dengan makin majunya perdagangan di masa jaya pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750-1258).

 

Islam Masuk Istana Raja

Nah, dalam perkembangannya Islam mulai masuk ke Istana Raja, banyak wilayah di Indonesia yang mulai menganut agama Islam antaralain:

  • Sumatra
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Maluku Utara
  • Papua
  • Nusa Tenggara
Kerajaan Islam di Sumatra

Pada kerajaan Islam di Sumatra yang akan kita bahas antaralain:

  • Kesultanan Samudera Pasai
  • Kesultanan Aceh Darussalam
  • Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau
  • Kerajaan Islam di Jambi
  • Kerajaan Islam di Sumatra Selatan
  • Kerajaan Islam di Sumatra Barat

Yuk kita simak lebih jauh!

Kesultanan Samudera Pasai

Kesultanan Samudera Pasai berdiri antara tahun 1270 – 1275 M.

Letaknya berada di daerah Lhokseumawe.

Sultan yang pernah memerintah:

  • Sultan Malik as-Shaleh
  • Sultan Malik at-Thahir
  • Sultan Mahmud Malik az-Zahir

Sumber sejarah kesultanan ini berasal dari :

  • Batu nisan Sultan Malik as-Shaleh
  • Catatan Marcopolo
  • Catatan Ibnu Batutah

Perekonomian masyarakat Samudera Pasai bergantung pada perdagangan.

 

Kesultanan Aceh Darussalam

Kesultanan Aceh didirikan pada tahun 1513 oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Kesultanan Aceh mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636M.

Kemudian digantikan oleh Sultan Iskandar Thani.

Perekonomian masyarakat Aceh berkembang pesat dan menjadikan Aceh sebagai bandar transit lada dari Sumatra dan rempah-rempah dari Maluku.

 

Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau

Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau sendiri dibagi menjadi:

  • Kerajaan Siak
  • Kerajaan Kampar
  • Kerajaan Indragiri

Ketiga kerajaan di pesisir Sumatra Timur ini dikuasai Kerajaan Malaka pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah.

Siak menjadi daerah kekuasaan Malaka sejak penaklukan oleh Sultan Mansyûr Syah di mana ditempatkan raja-raja sebagai wakil Kemaharajaan Melayu.

Pada 1596 yang menjadi Raja Siak ialah Raja Hasan putra Ali Jalla Abdul Jalil.

Sementara saudaranya yang bernama Raja Husain ditempatkan di Kelantan.

Kemudian di Kampar ditempatkan Raja Muhammad.

Sejak VOC Belanda menguasai Malaka pada 1641 sampai abad ke-18 praktis ketiga kerajaan, yaitu Siak, Kampar, dan Indragiri berada di bawah pengaruh kekuasaan politik dan ekonomi–perdagangan VOC.

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Siak adalah:

  • Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah
  • Sultan Sa’id Ali
  • Tengku Ibrahim

Raja yang pernah memerintah Kerajaan Kampar adalah:

  • Sultan Abdullah
  • Maharaja Lela Utama

Raja yang pernah memerintah Kerajaan Indragiri adalah:

  • Sultan Hasan Shalahuddin Kramat Syah
  • Sultan Ibrahim

 

Kerajaan Islam di Jambi

Berdasarkan temuan-temuan arkeologis kemungkinan kehadiran Islam di daerah Jambi diperkirakan dimulai sejak abad ke-9 atau abad ke-10 sampai abad ke-13.

Nah pada saat itu proses Islamisasi masih terbatas pada perorangan saja.

Karena proses Islamisasi besar-besaran bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Islam Jambi sekitar 1500 M di bawah pemerintahan Orang Kayo Hitam yang juga meluaskan “Bangsa XII” dari “Bangsa IX”, anak Datuk Paduka Berhala.

Masa pemerintahan di Kerajaan Islam Jambi adalah:

  • Datuk Paduka Berhala (1460)
  • Orang Kayo Pingai (1480)
  • Orang Kayo Pedataran (1490)
  • Orang Kayo Hitam (1500)
  • Panembahan Rantau Kapas (1500 – 1540)
  • Panembahan Rengas Pandak (1540)
  • Panembahan Bawah Sawoh (1565)
  • Panembahan Kota Baru (1590)
  • Sultan Abdul Kahar (1615)
  • Sultan Sri Ingalogo (1665 – 1690)
  • Sultan Kiai Gede

 

Kerajaan Islam di Sumatra Selatan

Sejak Kerajaan Sriwijaya mengalami kelemahan bahkan runtuh sekitar abad ke-14, mulailah proses Islamisasi sehingga pada akhir abad ke-15 muncul komunitas Muslim di Palembang.

Palembang pada akhir abad ke-16 sudah merupakan daerah kantong Islam terpenting atau bahkan pusat Islam di bagian selatan “Pulau Emas”.

Palembang sekitar awal abad ke-16 sudah ada di bawah pengaruh kekuasaan Kerajaan Demak.

Nama tokoh yang tercatat menjadi sultan pertama Kesultanan Palembang ialah Susuhunan Sultan Abdurrahman Khalifat al-Mukminin Sayyid al-Iman/Pangeran Kusumo Abdurrahman/Kiai Mas Endi sejak 1659 sampai 1706.

Palembang berturut-turut diperintah oleh 11 sultan sejak 1706 dan sultan yang terakhir, Pangeran Kromojoyo/Raden Abdul Azim Purbolinggo (1823-1825).

Peninggalan yang masih dapat kita lihat saat ini adalah Masjid Agung Palembang yang mulai dibangun 28 Jumadil Awal 1151 H atau 26 Mei 1748 M pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I.

Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najmuddin (1758-1774) syiar agama Islam makin pesat.

Pada waktu itu, berkembanglah hasil-hasil sastra keagamaan dari tokoh-tokoh, antara lain:

  • Abdussamad al- Palimbani
  • Kemas Fakhruddin
  • Kemas Muhammad ibn Ahmad
  • Muhammad Muhyiddin ibn Syaikh Shibabuddin
  • Muhammad Ma’ruf ibn Abdullah
  • dll

 

Kerajaan Islam di Sumatra Barat

Islam yang datang dan berkembang di Sumatra Barat diperkirakan pada akhir abad ke-14 atau abad 15, sudah memperoleh pengaruhnya di kerajaan besar Minangkabau.

Melalui pelabuhan-pelabuhannya sejak abad ke-15 dan ke-16 hubungan antara daerah Sumatra Barat dengan berbagai negeri terjalin dalam hubungan perdagangan antara lain dengan Aceh.

Pada abad ke-17 M, terdapat ulama terkenal di Sumatra Barat salah seorang murid Abdurrauf al-Sinkili yang terkenal bernama Syaikh Burhanuddin (1646-1692) di Ulakan.

Syaikh Burhanuddin dalam masyarakat setempat dikenal sebagai Tuanku Ulakan.

Sejak awal abad ke-16 sampai awal abad ke-19 di daerah Minangkabau senantiasa terdapat kedamaian, sama-sama saling menghargai antara kaum adat dan kaum agama, antara hukum adat dan syariah Islam sebagaimana tercetus dalam pepatah “Adat bersandi syara, syara bersandi adat”.

Sejak awal abad ke-19 timbul pembaruan Islam di daerah Sumatra Barat yang membawa pengaruh Wahabiyah dan kemudian memunculkan “Perang Padri “.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau lambat laun terjadi kebiasaan buruk seperti main judi, menyabung ayam, menghisap madat dan minum-minuman keras.

Terkait dengan hal itu, kaum ulamanya yang kelak dinamakan kaum “Padri” berkeinginan mengadakan perbaikan mengembalikan kehidupan masyarakat Minangkabau kepada kemurnian Islam.

Mereka itu terdiri atas:

  • Tuanku Nan Renceh
  • Tuanku Bansa
  • Tuanku Galung
  • Tuanku Lubuk Aer
  • Tuamku Padang Lawas
  • Tuanku Padang Luar
  • Tuanku Kubu Ambelan
  • Tuanku Kubu Senang

Kedelapan ulama Padri itu disebut Harimau Nan Salapan.

 

Kerajaan Islam di Jawa

Pada kerajaan Islam di Jawa yang akan kita bahas antaralain:

  • Kerajaan Demak
  • Kerajaan Mataram
  • Kesultanan Banten
  • Kesultanan Cirebon

Yuk kita simak lebih jauh!

 

Kerajaan Demak

Kesultanan Demak merupakan kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa.

Kesultanan ini didirikan sekitar abad ke-15 M, oleh Raden Patah.

Kehidupan ekonomi masyarakat Demak bersumber pada pertanian, perdagangan, dan pelayaran.

Kesultanan Demak mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggana.

Pada masa ini wilayah kekuasaan Demak meliputi :

  • Sebagian Jawa Barat
  • Jayakarta
  • Jawa Tengah
  • dan Sebagian Jawa Timur

Kesultanan Demak mengalami kemunduran setelah Sultan Trenggana wafat.

Hal ini dikarenakan konflik dalam keluarga yang memperebutkan tahkta Demak.

 

Kerajaan Mataram

Kesultanan Mataram merupakan kesultanan Islam yang didirikan oleh Sutawijaya pada tahun 1575M.

Sutawijaya kemudian menjadi Sultan Mataram pertama dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.

Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung.

 

Kesultanan Banten

Kesultanan Banten didirikan oleh Fatahillah.

Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651-1682.

Kesultanan Banten menjadi salah satu pusat perdagangan.

Untuk menjaga ini Kesultanan Banten bersikap tegas terhadap VOC dari Belanda.

Namun Kesultanan Banten mengalami kemunduran ketika masa pemerintahan Sultan Haji yang cenderung berkompromi dengan VOC.

Sehingga pada akhirnya Banten di bawah pengaruh VOC.

 

Kesultanan Cirebon

Kasultanan Cirebon didirikan oleh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Dengan bantuan Fatahillah, kesultanan Cirebon dapat meluaskan kekuasaannya meliputi Jayakarta dan Pajajaran.

Ketika Sunan Gunung Jati menua, Kesultanan Cirebon diserahkan kepada putranya Pangeran Muhammad Arifin dengan gelar Pangeran Pasarean.

Sepeninggal Pangeran Pasarean, kedudukan Sultan diserahkan kepada Pangeran Sebakingking atau yang bergelar Sultan Maulana Hasanuddin.

Pada abad ke-17 terjadi perselisihan dalam keluarga, sehingga kesultanan Cirebon pecah menjadi dua yaitu Kasepuhan dan Kanoman.

 

Kerajaan Islam di Kalimantan

Pada kerajaan Islam di Kalimantan yang akan kita bahas antaralain:

  • Kerajaan Pontianak
  • Kerajaan Banjar

Yuk kita simak lebih jauh!

 

Kerajaan Pontianak

Kerajaan-kerajaan yang terletak di daerah Kalimantan Barat antara lain Tanjungpura dan Lawe.

Meskipun kita tidak mengetahui dengan pasti kehadiran Islam di Pontianak, konon ada pemberitaan bahwa sekitar abad ke-18 atau 1720 ada rombongan pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang di antaranya datang ke daerah Kalimantan Barat untuk mengajarkan membaca al- Qur’an, ilmu fikih, dan ilmu hadis. Mereka di antaranya Syarif Idrus bersama anak buahnya pergi ke Mampawah, tetapi kemudian menelusuri sungai ke arah laut memasuki Kapuas Kecil sampailah ke suatu tempat yang menjadi cikal bakal kota Pontianak.

Syarif Idrus kemudian diangkat menjadi pimpinan utama masyarakat di tempat itu dengan gelar Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus yang kemudian memindahkan kota dengan pembuatan benteng untuk pertahanan.

Sejak itu Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus dikenal sebagai Raja Kubu.

Pemerintahan Syarif Idrus memerintah pada 1199-1209 H atau 1779-1789 M.

Cerita lainnya mengatakan bahwa pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang mengajarkan Islam dan datang ke Kalimantan bagian barat terutama ke Sukadana ialah Habib Husin al-Gadri.

Habib Husin al-Gadri pindah dari Matan ke Mempawah untuk meneruskan syiar Islam.

Setelah wafat ia diganti oleh salah seorang putranya yang bernama Pangeran Sayid Abdurrahman Nurul Alam.

Pemerintahan Syarif Abdurrahman Nur Alam ibn Habib Husin al-Gadri pada 1773-1808, digantikan oleh Syarif Kasim ibn Abdurrahman al-Gadri pada 1808-1828 dan selanjutnya Kesultanan Pontianak di bawah pemerintahan sultan-sultan keluarga Habib Husin al-Gadri.

 

Kerajaan Banjar

Kesultanan Banjar terletak di Kalimantan Selatan.

Rajanya bernama Raden Samudra.

Kesultanan Banjar mencapai puncak kejayaan pada awal abad ke 17M.

Disini lahir seorang ulama besar bernama Muhammad Arsyad ibn Abdullah Al Banjari.

Beliau pergi ke Mekkah dan kembali untuk mengajarkan agama Islam.

Kitabnya yang terkenal adalah Sabil al-Muhtadin.

 

Kerajaan Islam di Sulawesi

Pada kerajaan Islam di Sulawesi yang akan kita bahas antaralain:

  • Kerajaan Gowa-Tallo
  • Kerajaan Wajo

Yuk kita simak lebih jauh!

 

Kerajaan Gowa-Tallo

Kerajaan Gowa terbentuk dari sembilan komunitas yang sepakat untuk membentuk sebuah kerajaan.

Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16.

Kerajaan ini populer dengan sebutan kerajaan kembar Gowa dan Tallo.

Dua kerajaan telah menyatakan ikrar bersama, yang terkenal dalam pribahasa Rua Karaeng Na Se’re Ata.

Maka dikenal dengan Kerajaan Makassar.

Pemerintah kerajaan Gowa mencapai puncaknya dibawah kekuasaan Manauntungi Daeng Matolla Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikulsaid atau yang lebih dikenal dengan Sultan Malikulsaid.

Sultan Malikulsaid wafat pada tanggal 16 November 1653 dan digantikan oleh Sultan Hasanuddin.

Sultan Hasanuddin sangat menentang Belanda.

Sehingga sering terjadi peperangan yang akhirnya menjadi perang terbuka.

Dalam peperangan tersebut Belanda sering mengalami kesulitan dalam menundukkan Makassar, sehingga Belanda memperalat Aru Palaka (Raja Bone) untuk mengalahkan Makassar.

Sejak kekalahan Gowa dengan Belanda terutama setelah hancurnya Benteng Somba Apu, pada akhirnya keagungan Gowa mulai mengalami kemunduran.

 

Kerajaan Wajo

Berita tentang tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Wajo terdapat pada sumber hikayat lokal.

Di hikayat lokal tersebut ada cerita yang menghubungkan tentang pendirian Kampung Wajo yang didirikan oleh tiga orang anak raja dari kampung tetangga Cinnotta’bi yaitu berasal dari keturunan dewa yang mendirikan kampung dan menjadi raja-raja dari ketiga bagian (limpo) bangsa Wajo: Bettempola, Talonlenreng, dan Tua.

Kepala keluarga dari mereka menjadi raja di seluruh Wajo dengan gelar Batara Wajo.

Batara Wajo yang ketiga dipaksa turun tahta karena kelakuannya yang buruk dan dibunuh oleh tiga orang Ranreng.

Sejak itu raja-raja di Wajo tidak lagi turun temurun tetapi melalui pemilihan dari seorang keluarga raja menjadi arung-matoa artinya raja yang pertama atau utama.

Selama keempat arung-matoa dewan pangreh-praja diperluas dengan tiga pa’betelompo (pendukung panji), 30 arung-ma’bicara (raja hakim), dan tiga duta, sehingga jumlah anggota dewan berjumlah 40 orang.

Diceritakan bahwa di Kerajaan Wajo selama 1612 sampai 1679 diperintah oleh sepuluh orang arung-matoa.

 

Kerajaan Islam di Maluku Utara

Yang akan dibahas disini adalah Kerajaan Ternate dan Tidore.

Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13.

Kerajaan Ternate yang paling maju dibandingkan kerajaan lainnya di wilayah tersebut.

Kerajaan Ternate memiliki banyak rempah-rempah.

Menurut catatan orang Portugis, raja di Maluku yang pertama memeluk Islam adalah Gapi Baguna atau Sultan Mahrum.

Setelah wafat beliau digantikan oleh Zainal Abidin.

Setelah Zainal Abidin yang memerintah adalah Sultan Sirullah, Sultan Khairun, dan Sultan Baabullah.

Kerajaan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di Kota Tidore.

Raja Tidore pertama adalah Syahadati atau Muhammad Naqal.

Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku.

Pada masa ini pula Ternate dan Tidore berhasil bersatu kembali.

 

Kerajaan Islam di Papua

Berdasarkan bukti sejarah terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Papua, yakni:

  • Kerajaan Waigeo
  • Kerajaan Misool
  • Kerajaan Salawati
  • Kerajaan Sailolof
  • Kerajaan Fatagar
  • Kerajaan Rumbati(terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar)
  • Kerajaan Kowiai (Namatota)
  • Kerajaan Aiduma
  • Kerajaan Kaimana

Ada lima teori yang membahas tentang kedatangan Islam di Papua.

Pertama, Islam datang di Papua tahun 1360 yang disebarkan oleh mubaligh asal Aceh, Abdul Ghafar. Pendapat ini juga berasal dari sumber lisan yang disampaikan oleh putra bungsu Raja Rumbati ke-16 (Muhamad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati ke-17 (H. Ismail Samali Bauw). Abdul Ghafar berdakwah selama 14 tahun (1360-1374) di Rumbati dan sekitarnya. Ia kemudian wafat dan dimakamkan di belakang masjid Kampung Rumbati tahun 1374.

Kedua,pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam pertama kali mulai diperkenalkan di tanah Papua, tepatnya di jazirah Onin (Patimunin-Fakfak) oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab. Pengislaman ini diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-16, dengan bukti adanya Masjid Tunasgain yang berumur sekitar 400 tahun atau di bangun sekitar tahun 1587.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa Islamisasi di Papua, khususnya di Fakfak dikembangkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda dan Seram Timur oleh seorang pedagang dari Arab bernama Haweten Attamimi yang telah lama menetap di Ambon. Proses pengislamannya dilakukan dengan cara khitanan. Di bawah ancaman penduduk setempat jika orang yang disunat mati, kedua mubaligh akan dibunuh, namun akhirnya mereka berhasil dalam khitanan tersebut kemudian penduduk setempat berduyun-duyun masuk agama Islam.

Keempat, pendapat yang mengatakan Islam di Papua berasal dari Bacan. Pada masa pemerintahan Sultan Mohammad al-Bakir, Kesultanan Bacan mencanangkan syiar Islam ke seluruh penjuru negeri, seperti Sulawesi, Fiilipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Menurut Thomas Arnold, Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam adalah Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521. Pada masa ini Bacan telah menguasai suku-suku di Papua serta pulaupulau di sebelah barat lautnya, seperti Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati. Sultan Bacan kemudian meluaskan kekuasaannya hingga ke Semenanjung Onin Fakfak, di barat laut Papua tahun 1606. Melalui pengaruhnya dan para pedagang muslim, para pemuka masyarakat di pulau-pulau kecil itu lalu memeluk agama Islam. Meskipun pesisir menganut agama Islam, sebagian besar penduduk asli di pedalaman masih tetap menganut animisme.

Kelima, pendapat yang mengatakan bahwa Islam di Papua berasal dari Maluku Utara (Ternate-Tidore). Sumber sejarah Kesultanan Tidore menyebutkan bahwa pada tahun 1443 Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X atau Sultan Papua I) memimpin ekspedisi ke daratan tanah besar (Papua). Setelah tiba di wilayah Pulau Misool dan Raja Ampat, kemudian Sultan Ibnu Mansur mengangkat Kaicil Patrawar putera Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi). Kapita Gurabesi kemudian dikawinkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah. Kemudian berdiri empat kerajaan di Kepulauan Raja Ampat tersebut, yakni Kerajaan Salawati, Kerajaan Misool atau Kerajaan Sailolof, Kerajaan Batanta, dan Kerajaan Waigeo.

 

Kerajaan Islam di Nusa Tenggara

Pada kerajaan Islam di Nusa Tenggara yang akan kita bahas antaralain:

  • Kerajaan Lombok dan Sumbawa
  • Kerajaan Bima

Yuk kita simak lebih jauh!

 

Kerajaan Lombok dan Sumbawa

Selaparang merupakan pusat kerajaan Islam di Lombok di bawah pemerintahan Prabu Rangkesari.

Pada masa itulah Selaparang mengalami zaman keemasan dan memegang hegemoni di seluruh Lombok. Dari Lombok, Islam disebarkan ke Pejanggik, Parwa, Sokong, Bayan, dan tempat-tempat lainnya.

Konon Sunan Perapen meneruskan dakwahnya dari Lombok menuju Sumbawa.

Hubungan dengan beberapa negeri dikembangkan terutama dengan Demak.

 

Kerajaan Bima

Bima merupakan pusat pemerintahan atau kerajaan Islam yang menonjol di Nusa Tenggara dengan nama rajanya yang pertama masuk Islam ialah Ruma Ta Ma Bata Wada yang bergelar Sultan Bima I atau Sultan Abdul Kahir.

Sejak itu pula terjalin hubungan erat antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Gowa, lebih-lebih sejak perjuangan Sultan Hasanuddin kandas akibat perjanjian Bongaya.

 

 

Jaringan Keilmuan di Nusantara

Ketika Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran dalam bidang politik, tradisi keilmuannya tetap berlanjut. Samudera Pasai terus berfungsi sebagai pusat studi Islam di Nusantara.

Kerajaan Malaka dengan giat melaksanakan pengajian dan pendidikan Islam. Hal itu terbukti dengan berhasilnya kerajaan ini dalam waktu singkat melakukan perubahan sikap dan konsepsi masyarakat terhadap agama, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Banyaknya para ulama besar dari berbagai negara yang mengajar di Malaka telah menarik para penuntut ilmu dari berbagai kerajaan Islam di Asia Tenggara untuk datang.

Dari Jawa misalnya, Sunan Bonang dan Sunan Giri pernah menuntut ilmu ke Malaka dan setelah menyelesaikan pendidikannya mereka kembali ke Jawa dan mendirikan lembaga pendidikan Islam di tempat masing-masing.

Hubungan antar kerajaan Islam, misalnya Samudera Pasai, Malaka, dan Aceh Darussalam, sangat bermakna dalam bidang budaya dan keagamaan.

Ketiganya tersohor dengan sebutan Serambi Mekkah dan menjadi pusat pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia.

Di Banten, fungsi istana sebagai lembaga pendidikan juga sangat mencolok. Pada abad ke-17, Banten sudah menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam di pulau Jawa.

Di Palembang, istana (keraton) juga difungsikan sebagai pusat sastra dan ilmu agama. Banyak Sultan Palembang yang mendorong perkembangan intelektual keagamaan, seperti Sultan Ahmad Najamuddin I (1757-1774) dan Sultan Muhammad Baha’uddin (1774-1804).

Di Nusantara, masjid-masjid yang berada di pemukiman penduduk yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat menjalankan fungsi pendidikan dan pengajaran untuk masyarakat umum.

 

Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam

Beberapa contoh bentuk akulturasi dan perkembangan budaya Islam adalah:

  • Seni Bangunan: Masjid, menara, makam
  • Seni Ukir
  • Aksara dan Seni Sastra
  • Kesenian
  • Kalender

 

Proses Integrasi Nusantara

 

Peranan Para Ulama dalam Proses Integrasi

Agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara mengajarkan kebersamaan dan mengembangkan toleransi dalam kehidupan beragama.

Islam mengajarkan persamaan dan tidak mengenal kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat.

Konsep ajaran Islam memunculkan perilaku ke arah persatuan dan persamaan derajat.

Disisi lain, datangnya pedagang-pedagang Islam di Indonesia mendorong berkembangnya tempat-tempat perdagangan di daerah pantai.

Tempat-tempat perdagangan itu kemudian berkembang menjadi pelabuhan dan kota-kota pantai.

Bahkan kota-kota pantai yang merupakan bandar dan pusat perdagangan, berkembang menjadi kerajaan.

Timbulnya kerajaan-kerajaan Islam merupakan awal terjadinya proses integrasi.

Meskipun masing-masing kerajaan memiliki cara dan faktor pendukung yang berbeda-beda dalam proses integrasinya.

 

Peran Perdagangan Antarpulau

Proses integrasi juga terlihat melalui kegiatan pelayaran dan perdagangan antarpulau.

Sejak zaman kuno, kegiatan pelayaran dan perdagangan sudah berlangsung di Kepulauan Indonesia.

Pelayaran dan perdagangan itu berlangsung dari daerah yang satu ke daerah yang lain, bahkan antara negara yang satu dengan negara yang lain.

Kegiatan pelayaran dan perdagangan pada umumnya berlangsung dalam waktu yang lama.

Hal ini, menimbulkan pergaulan dan hubungan kebudayaan antara para pedagang dengan penduduk setempat.

Kegiatan semacam ini mendorong terjadinya proses integrasi.

 

Peran Bahasa

Masuk dan berkembangnya agama Islam, mendorong perkembangan bahasa Melayu.

Buku-buku agama dan tafsir al- Qur’an juga mempergunakan bahasa Melayu.

Ketika menguasai Malaka, Portugis mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa Portugis, namun kurang berhasil.

Pada tahun 1641 VOC merebut Malaka dan kemudian mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa Melayu.

Jadi, secara tidak sengaja, kedatangan VOC secara tidak langsung ikut mengembangkan bahasa Melayu.

 

 

Apabila kalian sudah cukup memahami materi ini, coba juga latihan soal materi ini pada link dibawah ini:

 

Latihan Soal Sejarah Kelas 10 Bab 3

 

Sekian rangkuman yang dapat Admin bagikan kali ini tentang Materi Sejarah Kelas 10 Bab 3.

Jangan lupa share ke teman teman kalian apabila kalian merasa artikel ini bermanfaat untuk kalian.

Selalu kunjungi Portal Edukasi untuk rangkuman materi lainnya ya.

 

Baca Juga : Materi Sejarah Kelas 10 Bab 4

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Maaf Dilarang Copas Ya :)
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x